Prodi Akuakultur Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan,
Universitas Borneo Tarakan
Sejak resmi berdiri pada tahun 2001, Program Studi Akuakultur (Budidaya Perairan) Universitas Borneo Tarakan (UBT) telah menjelma menjadi batu penjuru pengembangan sumber daya perikanan budidaya di kawasan Kalimantan Utara dan seluruh wilayah perbatasan Indonesia–Malaysia–Filipina. Lebih dari dua dekade perjalanan, prodi ini terus membuktikan perannya sebagai pusat pendidikan, penelitian, dan pengabdian yang unggul di wilayah Indonesia Timur.
Terletak strategis di Kota Tarakan—sebuah pulau frontier yang dikelilingi Selat Treng dan Laut Sulawesi—prodi Akuakultur UBT memiliki keunggulan geopolitik dan ekologis yang tak tertandingi. Tarakan bukan sekadar kota; ia adalah simpul keberlanjutan ekosistem pesisir, muara, dan laut. Dari sinilah keunggulan prodi lahir: memadukan kearifan lokal masyarakat pesisir dengan inovasi teknologi budidaya mutakhir, baik air tawar, payau, maupun laut.
Sebagai bagian dari Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan, prodi Akuakultur UBT mengusung visi menjadi pusat pendidikan yang adaptif terhadap perubahan iklim dan kebutuhan pangan biru nasional. Kurikulum yang diterapkan tidak hanya berbasis kompetensi teknis seperti manajemen kualitas air, reproduksi dan pemuliaan ikan, nutrisi pakan, serta kesehatan organisme akuatik, tetapi juga membekali mahasiswa dengan jiwa kewirausahaan biru (blue entrepreneur) dan kesadaran konservasi.
Keunikan prodi ini terletak pada kekayaan spesies lokal unggulan yang menjadi andalan riset dan praktik lapangan, di antaranya budidaya kepiting bakau, udang vaname, kerapu, rumput laut, dan berbagai ikan karang konsumsi. Mahasiswa tidak hanya belajar di laboratorium modern, tetapi juga langsung terjun di tambak-tambak tradisional, keramba jaring apung di perairan umum, serta pusat pembenihan rakyat yang tersebar di Tarakan dan sekitarnya. Kolaborasi dengan dinas kelautan perikanan daerah, Balai Perikanan Budidaya Air Payau (BPBAP), serta komunitas pembudidaya lokal menjadi pilar utama experiential learning.
Kota Tarakan yang dinamis dan multi-etnis memberikan warna tersendiri dalam kehidupan akademik. Mahasiswa dan dosen Akuakultur hidup dalam semangat kebersamaan, terbiasa dengan pasang-surut laut sekaligus dinamika sosial budaya. Banyak alumninya telah tersebar sebagai pendamping pembudidaya di daerah tertinggal, pengelola instalasi budidaya skala industri, wirausahawan sukses di bidang sarana produksi perikanan, bahkan menjadi aparatur sipil negara dan peneliti di lembaga-lembaga riset kelautan.
Kini, dengan tantangan global berupa ketahanan pangan dan ekologi laut yang rentan, Program Studi Akuakultur Universitas Borneo Tarakan berdiri kokoh sebagai mercusuar harapan. Dari dermaga kecil di tepian Tarakan, prodi ini meluncurkan generasi-generasi akuakulturis yang tangguh, inovatif, dan berhati biru. “Membudidayakan air, membangun peradaban lestari.”
